![]() |
Stadion Palagan Agung |
Al-Zaytun merupakan
pondok pesantren terbesar se Asia tenggara bahkan dunia yang letaknya di desa
Mekarjaya, kecamatan Gantar, Indramayu - jawa barat.
Pada hari libur Sabtu
dan Minggu atau hari libur nasional pondok pesantren ini selalu banyak
dikunjungi tamu baik dari penduduk sekitar maupun dari luar kota Indramayu
bahkan dari luar negeri, Al-Zaytun layaknya tempat rekreasi yang tak pernah
sepi pengunjung karena mudahnya masuk ke kawasan ini hanya dengan menyerahkan
KTP dan uang Seribu rupiah sebagai sodaqoh, pengunjung di persilahkan
memasukinya, entah hanya untuk sekedar rekreasi atau untuk menengok anak
anaknya yang sedang menuntut ilmu di Ma'had Al-Zaytun, karena di komplek yang
luasnya 1500 hektar ini tidak hanya menampilkan bangunan yang megah saja tapi
juga tempat-tempat lain yang sangat mengasyikan, kolam ikan yang luas, peternakan
sapi, kebon binatang, berbagai tanaman tumbuh subur disini, gedung gedung yang
mega dari mulai tempat belajar, aula, asrama, stadion, sport center sampai
masjid yang sangat megah sekalipun, konon masjid kedua yang dibangun ini
"Rahmatan Lil Alamin" akan menjadi masjid terbesar di indonesia, bisa
dikatakan Al-Zaytun merupakan kota megah ditengah hutan.
Yang menjadi kenangan
terindah dan mungkin sulit dilupakan dalam hidup saya bersama Al-Zaytun yaitu
ketika tahun 2002 lalu ketika saya dan tim sepak bola melakukan pertandingan
persahabatan dengan tim santri Al-Zaytun, sungguh pemandangan yang sulit
dilupakan di stadion yang sangat megah Stadion Palagan Agung Ma'had Al-Zaytun,
bayangkan sobat, bermain pada malam hari yang tak lazim dilakukan di indonesia,
di Al-Zaytun kick off dimulai pukul 21.00 wib, seluruh tribun penonton penuh
dengan santriwan dan santriwati juga masyarakat umum yg ingin melihatnya, uniknya
tribun penonton dibagi dua bagian untuk laki-laki dan perempuan.
Di jedah babak
pertama penonton disuguhi hiburan dan berbagai atraksi juga lomba lari yang
dilakukan anak-anak santriwan dan santriwati.
Terlepas dari isu miring dan contravention saya salut dan bangga dengan
pesantren ini, gimana tidak, hanya beberapa menit memasuki ruang ganti, lepas
sepatu, ganti baju, ke toilet kemudian keluar stadion sungguh saya
tercengang dan kagum dengan keadaan
diluar tanpa meninggalkan bekas sedikitpun semuanya tertata rapi sekali tak
seorangpun yang lalu lalang berkeliaran hanya beberapa petugas saja yang
mengawal kami untuk keluar dari komplek, lampu stadion juga sudah gelap gulita,
semuanya sunyi, ribuan santriwan dan santriwati dengan rapinya memasuki asramanya
masing-masing dengan sangat cepat dan
tertib, sungguh pemandangan yang sangat luar biasa buat saya, ingin rasanya
kaki ini menapakan kembali setelah 11 tahun lamanya kaki ini tidak menyentuh
rumput stadion yang menurut saya sangat unik dibandingkan dengan stadion lain
di indonesia, dengan contur tanah dan rumput yang agak tinggi dibagian
tengahnya (agak cembung) dan apabila kami terjatuh akan terlihat anak katak
yang melompat-lompat, tapi secara keseluruhan stadion ini sudah berstandar
nasional, saya ingat saat anak pertama
saya masih berusia dua tahun, meski harus terpisah karena anak dan istri harus
ikut bersama rombongan duduk di tribun penonton.
0 Response to "Kenangan Bersama Al-Zaytun"
Posting Komentar